REDIRECT...

04 November 2009

Praktikum Komputer Kelas 11 IPA



Pembelajaran Quantum Teaching

Pengertian Quantum Teaching

Deporter (2003:4) mendefinisikan bahwa;
“Quantum merupakan interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Dengan demikian Quantum Teaching adalah pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan disekitar momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermamfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain”.
Quantum teaching adalah mengubah belajar yang meriah dengan segala nuansanya dan Quantum teaching juga menyertakan segala kaitan interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar. Quantum teaching berfokus pada hubungan dinamis dengan lingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar, Deporter (2003:3).
Quantum teaching mencakup petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, menyampaikan isi dan memudahkan proses belajar. Dalam proses belajar mengajar guru dapat menggunakan cara-cara yang efektif, diantaranya dengan cara partisipasi dengan mengubah keadaan motivasi dan minat dengan menerapkan kerangka rancangan yang dikenal dengan singkatan TANDUR yaitu: Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan.
2.1.5.2 Asas Utama Quantum Teaching
Quantum Teaching bersandar pada asas berikut: Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka.
Belajar dari segala defenisinya adalah kegiatan full-contact. Dengan kata lain, belajar mengakibatkan semua aspek kepribadian manusia yang mencakup pikiran, perasaan dan bahasa tubuh disamping pengetahuan, sikap dan keyakinan sebelumnya mengenai persepsi masa yang akan datang.
Langkah awal dalam mengajar adalah memahami dunia siswa untuk mendapat simpatik dan perhatian siswa, pertama-tama guru harus membangun komunikasi yang baik untuk memasuki dunia siswa. Caranya dengan mengaitkan apa yang guru ajarkan dengan sebelum peristiwa, pemikiran, atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, atlek, seni, musik, rekreasi, sosial atau akademis mereka. Setelah guru sudah benar-benar memahami dunia siswa, guru dapat membawa dunia siswa kedunia guru tersebut dan memberi pemahaman tentang isi dunia tersebut, disinilah kosa kata baru, model mental, rumus dan lain-lain di beberkan, seraya menjelajahi kaitan dan interaksi, baik siswa maupun guru mendapat pemahaman baru “ dunia siswa” diperluas mencakup tidak hanya para siswa, tetapi juga guru. Akhirnya, dengan pengertian yang lebih luas dan penguasaan lebih mendalam ini, siswa dapat membawa apa yang mereka pelajari kedalam dunia mereka dan menerapkannya pada situasi baru.
Setelah kaitan ini, pendidik membawa siswa kedalam dunianya yang memberikan pemahaman tentang apa yang dipelajari. Kemudian diperluas dengan interaksi antara pendidik dengan siswa di dalam kelas. Dengan begitu siswa dapat membawa apa mereka pelajari ke dalam dunia mereka dan menerapkan pada situasi yang baru. Sehingga dapat dikatakan bahwa hanya perancangan pengajaranlah pendidik dapat menyebrang kedunia siswa dan membawa siswa tersebut kedalam dunia pendidikan (kedalam proses pembelajaran). Bagi siswa, guru adalah rekan belajar, model, pembimbing dan fasilitator.
2.1.5.3. Prinsip-Prinsip Quantum Teaching
Model Quantum Teaching memiliki lima prinsip. Prinsip-prisip ini menuntun perilaku dan membantu tumbuhnya lingkungan yang saling mempercayai dan mendukung. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
1. Ketrampilan Berbicara
2. Segalanya dari lingkungan kelas, bahasa tubuh, dan bahan pelajaran semuanya menyampaikan pesan tentang belajar.
3. Segalanya Bertujuan
4. Siswa diberi tahu tujuan mempelajari materi yang di pelajari.
5. Pengalaman Sebelum Pemberian Arti
6. Karena otak akan berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks yang akan menggerakkan rasa ingin tahu. Oleh karena itu pelajaran yang akan kita ajarkan terlebih dahulu kita beri rangsangan kepada siswa melalui pengalaman guru itu dan pengalaman dari siswa. Dengan ini guru dapat melanjutkan dengan pemberian nama, konsep, rumus sesuai dengan materi yang akan di ajarkan
8. Belajar mengundang resiko, belajar berarti keluar dari kenyamanan. Pada saat siswa mengambil langkah ini, mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.
9. Jika layak dipelajari maka layak pula dirayakan
10. Seorang guru sebaiknya memberikan pujian kepada siswa yang terlibat aktif pada proses pembelajaran misalnya dengan pujian, tepuk tangan, berkata baik dan lain-lain. Ini merupakan umpan balik mengenai kemajuan dan peningkatan asosiasi emosi positif belajar siswa.
2.1.5.4. Pembelajaran Quantum Teaching dan Proses Belajar Mengajar
Sejauh ini pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai peringkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih terfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar.
Berkaitan dengan mengajar yang dilakukan guru perlu dipahami pengertian dan maksud itu sendiri agar dapat dilaksanakan sesuai dengan maksud dan tujunnya. Bukan diselewengkan dengan tidak bertanggung jawab yaitu dengan tidak melakukan kegiatan belajar mengajar seadanya untuk memenuhi kewajiban bagi seorang guru.
Banyak upaya-upaya yang telah dilakukan oleh guru-guru dalam membuat strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta tetapi strategi yang mendorong siswa mengkontruksikan pengetahuan di benak siswa itu sendiri, salah satu diantaranya dengan menerapkan pembelajaran Quantum Teaching. Sebagai mana Deporter (2003:3) mengatakan bahwa: Quantum Teaching juga sangat baik diterapkan dalam pengajaran pada setiap materi pengajaran termasuk fisika. Sehingga pada saat mengajarkan fisika dengan pembelajaran Quantum Teaching lebih menarik dan menantang bagi siswa dalam hal itu akan menggairahkan proses belajar mengajar dan akhirnya hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai.
Quantum Teaching merupakan suatu proses pembelajaran dengan menyediakan latar belakang dan strategi untuk meningkatkan proses belajar mengajar dan membuat proses tersebut menjadi lebih menyenangkan. Cara ini membuat sebuah gaya mengajar yang memperdayakan siswa untuk berprestasi lebih dari mereka anggap mungkin. Juga membantu guru memperluas ketrampilan siswa dan motivasi siswa, sehingga guru memperoleh kepuasan yang lebih besar dari pekerjaan mereka.
Dengan demikian Quantum Teaching mencakup pengajaran yang mempertimbangkan aspek-aspek penting dalam proses belar mengajar yaitu; guru, siswa, lingkungan dan materi dari kurikulum yang telah ditetapkan. Quantum Teaching dapat memaksimalkan pengajaran oleh guru serta menigkatkan aktivitas siswa dalam belajar salah satunya dengan cara melakukan observasi. Selain itu Quantum Teaching juga dapat memberikan kebebasan pada siswa untuk berekspresi sehingga pemahaman yang didapat tentang materi pelajaran akan lebih dan berkesan.
Keterampilan guru sebagai pendidik dalam mengajar sangatlah dibutuhkan pada proses belajar mengajar di kelas sehingga tujuan dari pembelajaran akan tercapai.
Deporter (2003:128) Mengemukakan beberapa keterampilan yang harus dimiliki seorang guru dalam pengajaran Quantum Teaching adalah:
1. Keterampilan bersegi banyak
2. Keterampilan menampilkan banyak peran
3. Kemampuan berhubungan dengan beragam siswa
4. Tekad menjadi pleksibel
5. Keinginan kuat untuk bekerja sama dengan siswa.

Model Pembelajaran Quantum Teaching

Model Quantum Teaching di kelas memamfaatkan dua sisi pengajaran yaitu konteks dan isi. Deporter (2003:14-14) menjelaskan bahwa model Quantum Teaching yang ditinjau dari sisi pengajaran konteks di kelas meliputi empat aspek antara lain:
1. Suasana kelas mencakup bahasa yang dipilih guru, cara menjamin rasa simpati dengan siwa dan sikap guru terhadap sekolah serta belajar. Suasana yang penuh kegembiraan membawa kegembiraan pula dalam belajar.
2. Landasan adalah kerangka kerja, tujuan, keyakinan, kesepakatan, kebijakan, prosedur dan aturan bersama yang memberi guru dan siswa sebuah pedoman untuk bekerja dalam komunitas belajar.
3. Lingkungan mencakup cara guru untuk menata ruangan kelas meliputi pencahayaan,warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman dan semua hal yang mendukung proses belajar.
4. Rancangan mencakup penciptaan terarah terhadap unsur-unsur penting yang dapat menumbuhkan minat siswa, mendalami makna dan perbaikan proses tukar menukar informasi. Dalam setiap rancangan pengajaran, guru dapat dengan mudah menyertakan siswa, mempersiapkan kesuksesan siswa dan melibatkan setiap kecerdasan dan modalitas siswa.
Model Quantum Teaching ditinjau dari pengajaran isi, meliputi aspek antara lain:
1. Penyajian mencakup pengajaran materi sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan dan guru menyesuaikanya dengan lingkungan, waktu siswa serta alat bantu. Dalam penyajian tersebut tentunya kemampuan guru untuk berkomunikasi, digabungkan dengan rancangan penyajian yang efektif, yang akan memberikan pengalaman belajar yang dinamis bagi siswa. Guru juga dapat menyampaikan materi dengan komunikasi non verbal yaitu dengan menggunakan ekspresi wajah, kontak nada suara.
2. Fasilitas mencakup interaksi pelajaran dengan kurikulum yang ada seperti penyajian materi dengan alat bantu. Guru juga dapat menggunakan strategi belajar seperti: penyajian materi dengan menggunakan konsep mendorong siswa untuk aktif dalam proses belajar mengajar, membuat singkatan, memamfaatkan pengalaman yang nyata.
3. Keterampilan belajar yaitu apapun mata pelajaran siswa dapat lebih cepat terfokus, cara mencatat, persiapan tes dan membaca cepat serta teknik mengingat. Dengan keterampilan belajar yang tepat, semua siswa dapat memahami sebagian besar informasi dalam waktu yang lebih singkat. Hal ini akan membuat guru dapat menyingkat waktu dalam menjelaskan informasi (pelajaran) Dan membuat guru bebas untuk maju dalam kurikulum atau menambahkan kegiatan pengayaan yang praktis.
4. Keterampilan hidup akan membentuk dan mengubah suasana dari landasan belajar di kelas dengan menggunakan dan mengajarkan komunikasi yang tampak.
2.1.5.6. Kerangka Rancangan Pembelajaran Quantum Teaching
Kerangka rancangan pembelajaran Quantum Teaching dikenal sebagai TANDUR dengan kata setiap pelajaran dapat juga memastikan siswa mengalami pembelajaran berlatih, menjadikan isi pelajaran nyata bagi mereka sendiri dan mencapai kesuksesan. Deporter (2003:89-93) menjelaskan kerangka rancangan pembelajaran Quantum Teaching adalah sebagai berikut:
1. Tumbuhkan
Guru menumbuhkan minat belajar dengan memusatkan AMBAK (apakah Mamfaatnya Bagiku) dengan memamfaatkan kehidupan pelajar. Dalam tahap ini guru berpedoman pada hal apa saja yang telah siswa pahami, apa yang mereka setujui, apakah mamfaatnya bagi siswa dan apa komitmen para siswa. Guru membuat pertanyaan tentang kemampuan siswa dengan memamfatkan pengalaman mereka dan mencari tanggapan, mamfaat serta komitmen siswa. Guru membuat strategi dengan melakukan pengajaran dengan mengajak, pertanyaan dengan humor dengan mengajukan pengalaman siswa atau cerita tentang pelajaran yang bersangkutan. Mengikut sertakan siswa dalam menciptakan jalinan dan kepemilikan atau kemampuan saling memahami. Mengatur hasil akan menciptakan AMBAK dan minat belajar dilakukan dengan menyertakan, mengundang, memikat dan mengikat siswa sekaligus tetap menyimpan kejutan dalam belajar.
2. Alami
Guru menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa lebih mudah memahaminya.
3. Namai
Guru mengajarkan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi. Untuk pemberian nama ( simbol-simbol fisika ) ataupun pemberian identitas dan mendefenisikan suatu pernyataan. Siswa dapat mengetahui informasi, fakta rumus, pemikiran tempat, dan sebagainya berdasarkan pengalaman agar pengetahuan tersebut berarti.
4. Demonstrasikan
Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menunjukkan bahwa mereka tahu dan mampu mengaitkan pengalaman mereka dengan data baru, sehingga dapat menghayati dan membuatnya sebagai pengalaman pribadi.
5. Ulangi
Guru mengulang-ulang hal yang kurang jelas bagi siswa. Siswa dapat dengan mudah memahami dan mengetahui pelajaran tersebut. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajarkan pengetahuan. Dalam tahap ini guru meminta siswa untuk mengemukakan atau mengulangi konsep teori yang di ucapkan oleh guru dan mengulanginya kembali kepada teman sebangkunya.
6. Rayakan
Perayaan merasa rampung dan menghormati usaha, ketekunan dan kesuksesan. Dalam hal ini, kira-kira cara apa yang paling sesuai untuk merayakan, bagai mana guru dapat mengakui setiap orang atas prestasi siswa. Mengadakan perayaan pada siswa akan mendorong siswa memperkuat rasa tanggung jawab dan mengamati proses belajar sendiri. Perayaan tersebut adalah mengajarkan mereka mengenai motivasi belajar, kesuksesan dan langkah untuk menuju kemenangan. Ujian yang mereka dapatkan akan mendorong mereka tetap dalam keadaan bersemangat dalam proses belajar mengajar. Biasanya pada saat siswa mencapai sesuatu, siswa hanya melanjutkan kegiatan selanjutnya, tanpa menciptakan daya pendorong istimewa untuk mengulangi keberhasilan itu. Sebagai guru, kiranya menanam bibit kesuksesan dan selalu menghubungkan belajar dengan perayaan. Perayaan tersebut membangun keinginan untuk sukses, ini dapat dilakukan dalam bentuk perayaan seperti tepuk tangan, pujian dan memberi penilaian.
2.1.6. Petunjuk Pelaksanaan Quantum Teaching
1. Guru wajib memberi keteladanan sehingga layak menjadi panutan bagi peserta didik, berbicaralah yang jujur , jadi pendengar yang baik dan selalu gembira (tersenyum).
2. Guru harus membuat suasana belajar yang menyenangkan/kegembiraan. “learning is most effective when it’s fun. ‘Kegembiraan’ disini berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan atas materi yang dipelajari) , dan nilai yang membahagiakan pada diri peserta didik.
3. Guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh yang kuat pada proses belajarnya. Guru dapat mempengaruhi suasana emosi siswa dengan cara :
a. kegiatan-kegiatan pelepas stres seperti menyanyi bersama, mengadakan permainan, outbond dan sebagainya.
b. aktivitas-aktivitas yang menambah kekompakan seperti melakukan tour, makan bersama dan sebagainya.
c. menyediakan forum bagi emosi untuk dikenali dan diungkapkan yaitu melalui bimbingan konseling baik oleh petugas BP/BK maupun guru itu sendiri.
4. Memutar musik klasik ketika proses belajar mengajar berlangsung. Namun sekali-kali akan diputarkan instrumental dan bisa diselingi jenis musik lain untuk bersenang-senang dan jeda dalam pembelajaran.
5. Sikap guru kepada peserta didik :
a. Pengarahan “Apa manfaat materi pelajaran ini bagi peserta didik” dan tujuan
b. Perlakukan peserta didik sebagai manusia sederajat
c. Selalu menghargai setiap usaha dan merayakan hasil kerja peserta didik
d. Memberikan stimulus yang mendorong peserta didik
e. Mendukung peserta 100% dan ajak semua anggota kelas untuk saling mendukung
f. Memberi peluang peserta didik untuk mengamati dan merekam data hasil pengamatan, menjawab pertanyaan dan mempertanyakan jawaban, menjelaskan sambil memberikan argumentasi, dan sejumlah penalaran.
6. Terapkan 8 kunci keunggulan ini kedalam rencana pelajaran setiap hari. Kaitkan kunci-kunci ini dengan kurikulum.
a. Integritas: Bersikaplah jujur, tulus, dan menyeluruh. Selaraskan nilai-nilai dengan perilaku Anda
b. Kegagalan Awal Kesuksesan: Pahamilah bahwa kegagalan hanyalah memberikan informasi yang Anda butuhkan untuk sukses
c. Bicaralah dengan Niat Baik: Berbicaralah dengan pengertian positif, dan bertanggung jawablah untuk berkomunikasi yang jujur dan lurus. Hindari gosip.
d. Hidup di Saat Ini: Pusatkan perhatian pada saat ini dan kerjakan dengan sebaik-baiknya
e. Komitmen: Penuhi janji dan kewajiban, laksanakan visi dan lakukan apa yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan
f. Tanggung Jawab: Bertanggungjawablah atas tindakan Anda.
g. Sikap Luwes dan Fleksibel: Bersikaplah terbuka terhadap perubahan atau pendekatan baru yang dapat membantu Anda memperoleh hasil yang diinginkan.
h. Keseimbangan: Jaga keselarasan pikiran, tubuh, dan jiwa Anda. Sisihkan waktu untuk membangun dan memelihara tiga bidang ini.
7. Guru yang seorang Quantum Teacher mempunyai ciri-ciri dalam berkomunikasi yaitu :
a. Antusias : menampilkan semangat untuk hidup
b. Berwibawa : menggerakkan orang
c. Positif : melihat peluang dalam setiap saat
d. Supel : mudah menjalin hubungan dengan beragam peserta didik
e. Humoris : berhati lapang untuk menerima kesalahan
f. Luwes : menemukan lebih dari satu untuk mencapai hasil
g. Menerima : mencari di balik tindakan dan penampilan luar untuk menemukan nilai-nilai inti
h. Fasih : berkomunikasi dengan jelas, ringkas, dan jujur
i. Tulus : memiliki niat dan motivasi positif
j. Spontan : dapat mengikuti irama dan tetap menjaga hasil
k. Menarik dan tertarik : mengaitkan setiap informasi dengan pengalaman hidup peserta didik dan peduli akan diri peserta didik
l. Menganggap peserta didik “mampu” : percaya akan keberhasilan peserta didik
m. Menetapkan dan memelihara harapan tinggi : membuat pedoman kualitas hubungan dan kualitas kerja yang memacu setiap peserta didik untuk berusaha sebaik mungkin
8. Semua peserta didik diusahakan untuk memiliki modul/buku sumber belajar lainnya, dan buku yang bisa dipinjam dari Perpustakaan. Tidak diperkenankan guru mencatat/menyuruh peserta didik untuk mencatat pelajaran di papan tulis
9. Dalam melakukan penilaian guru harus berorientasi pada :
a. Acuan/patokan. Semua kompetensi perlu dinilai sesuai dengan acuan kriteria berdasarkan indikator hasil belajar.
b. Ketuntasan Belajar. Ketuntasan belajar ditetapkan dengan ukuran atau tingkat pencapaian kompetensi yang memadai dan dapat dipertanggungjawakan sebagai prasyarat penguasaan kompetensi berikutnya.
c. Metoda penilaian dengan menggunakan variasi, antara lain
Tes Tertulis : pertanyaan-pertanyaan tertulis
Observasi : pengamatan kegiatan praktik
Wawancara : pertanyaan-pertanyaan langsung tatap muka
Portfolio : Pengamatan melalui bukti-bukti hasil belajar
Demonstrasi : Pengamatan langsung kegiatan praktik/pekerjaan yang sebenarnya
11. Kebijakan sekolah dalam KBM yang patut diperhatikan oleh guru :
a. Guru wajib mengabsensi peserta didik setiap masuk kelas
b. Masuk kelas dan keluar kelas tepat waktu. Jam pertama misalnya 07.30 dan jam terakhir harus pulang sama-sama setelah bel berbunyi. Pada jam istirahat tidak diperkenankan ada kegiatan belajar mengajar.
c. Guru wajib membawa buku absen & daftar nilai, Silabus, RPP, program semester, modul/bahan ajar sejenisnya ketika sedang mengajar
d. Selama KBM tidak boleh ada gangguan yang dapat mengganggu konsentrasi peserta didik. Misalnya guru/peserta berkomitmen bersama untuk tidak mengaktifkan HP ketika PBM berlangsung
e. Guru harus mendukung kebijakan sekolah baik yang berlaku baik untuk dirinya sendiri maupun untuk peserta didik dan berlaku proaktif.
f. Untuk pelanggaran oleh peserta didik maka hukuman dapat ditentukan secara musyawarah bersama peserta didik, namun untuk pelanggaran kategori berat sekolah berat menentukan kebijakan sendiri.
12. Pengalaman belajar hendaknya menggunakan sebanyak mungkin indera untuk berinteraksi dengan isi pembelajaran.
a. Terdapat kegiatan membaca, menjelaskan, demonstrasi, praktek, diskusi, kerja kelompok, pengulangan kembali dalam menjelaskan dan cara lain yang bisa ditemukan oleh guru.
b. Gunakan spidol warna-warni dalam membantu menjelaskan di papan tulis.
c. Disarankan menggunakan media pendidikan seperti projector, bagan, dan sebagainya.
d. Diperbolehkan belajar di luar kelas seperti di bawah pohon, dipinggir jalan
Siswa belajar : 10% dari apa yang dibaca, 20% dari apa yang didengar, 30% dari apa yang dilihat, 50% dari apa yang di lihat dan dengar, 70% dari apa yang dikatakan, dan 90% dari apa yang dikatakan dan lakukan (Vernon A. Magnessen, 1983). Ini menunjukkan guru mengajar dengan ceramah, maka siswa akan mengingat dan menguasai hanya 20% karena siswa hanya mendengarkan. Sebaliknya jika guru meminta siswa untuk melakukan sesuatu dan melaporkanknya maka akan mengingat dan menguasai sebanyak 90%.
13. Guru harus selalu menghargai setiap usaha dan hasil kerja siswa serta memberikan stimulus yang mendorong siswa untuk bernuat dan berpikir sambil menghasilkan kara dan pikiran kreatif. Ini memungkinkan siswa menjadi pembelajar seumur hidup. Untuk itu guru bisa menggunakan berbagai metoda dan pengalaman belajar melalui contoh yang konstekstual. Setiap kesuksesan dalam belajar siswa layak untuk dirayakan.
14. Suasana belajar siswa, guru dapat mengarahkan kearah ke ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Suasana belajar juga melibatkan mental-fisik-emosi –sosial siswa secara aktif supaya memberi peluang siswa untuk mengamati dan merekam data hasil pengamatan, menjawab pertanyaan dan mempertanyakan jawaban, menjelaskan sambil memberikan argumentasi, dan sejumlah penalaran.

31 Oktober 2009

Pembelajaran Tatap muka, penugasan bersetruktur dan kegiatan mandiri tak berstuktur

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Undang-Undang (UU) Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 4 ayat (1) menyatakan bahwa prinsip penyelenggaraan pendidikan adalah demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Pasal 5 ayat (4) menyatakan bahwa warga Negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus. Pasal 11 ayat (1) menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Pasal 12 ayat (1) menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak antara lain: (1) Mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya; (2) Menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan.

Standar Nasional Pendidikan (SNP) merupakan acuan dan pedoman dalam mengembangkan kurikulum. Berdasarkan UU nomor 20 tahun 2003 kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh satuan pendidikan. Pemerintah tidak lagi menetapkan kurikulum secara nasional seperti periode sebelumnya. Tidak ada lagi kurikulum nasional seperti kurikulum 1984, 1994 dan sebagainya. Pemerintah hanya menetapkan SNP yang menjadi acuan sekolah dalam mengembangkan kurikulum. Kini saatnya sekolah mengembangkan sendiri kurikulum sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan potensi peserta didik, masyarakat dan lingkungannya.

Sementara itu Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 14 tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Mandikdasmen) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menyebutkan bahwa salah satu tugas Subdirektorat Pembelajaran – Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas (Dit. PSMA) adalah melakukan penyiapan bahan kebijakan, standar, kriteria, dan pedoman serta pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum.

Lebih jauh dijelaskan dalam Permendiknas nomor 25 tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di Lingkungan Ditjen Mandikdasmen bahwa rincian tugas Subdirektorat Pembelajaran - Dit. PSMA, antara lain melaksanakan penyiapan bahan penyusunan pedoman dan prosedur pelaksanaan pembelajaran, termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan kurikulum.


Pengembangan KTSP (KTSP) berdasarkan SNP memerlukan langkah dan strategi yang harus dikaji berdasarkan analisis yang cermat dan teliti. Analisis dilakukan terhadap tuntutan kompetensi yang tertuang dalam rumusan SK dan KD; analisis mengenai kebutuhan dan potensi peserta didik, masyarakat, dan lingkungan; serta analisis peluang dan tantangan dalam memajukan pendidikan pada masa yang akan datang dengan dinamika dan kompleksitas yang semakin tinggi.

Penjabaran standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) sebagai bagian dari pengembangan KTSP dilakukan melalui pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Silabus merupakan penjabaran secara umum dengan mengembangkan SK dan KD menjadi indikator, kegiatan pembelajaran, materi pembelajaran dan penilaian. Penjabaran lebih lanjut dari silabus dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran.

Sebagai bagian dari langkah pengembangan silabus, pengembangan kegiatan pembelajaran merupakan langkah strategis yang berpengaruh pada kualitas pembelajaran di kelas. Kemampuan guru dan sekolah dalam mengembangkan pembelajaran tatap muka, tugas terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur berpengaruh pada kualitas kompetensi peserta didik di sekolah tersebut. Dengan demikian diperlukan panduan pengembangan kegiatan pembelajaran yang dapat dijadikan pedoman bagi guru dan sekolah dalam mengembangkan SK dan KD tiap mata pelajaran.

B. Tujuan

Penyusunan panduan ini bertujuan:
1. memberikan pemahaman lebih luas bagaimana merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan metode dan media secara bervariasi;
2. memberikan alternatif pembelajaran bervariasi untuk kegiatan tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur;
3. mendorong peningkatan mutu pendidikan melalui proses pembelajaran yang efektif.

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup panduan ini meliputi: konsep dasar dan implementasi pembelajaran, mekanisme pengembangan pembelajaran tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur untuk sistem paket dan sistem satuan kredit semsester (SKS), serta evaluasi dan tindak lanjut untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses pembelajaran.

BAB II
KONSEP DASAR DAN IMPLEMENTASI


A. Konsep Dasar Pembelajaran

1. Belajar dan Pembelajaran

Belajar dan pembelajaran merupakan konsep yang saling berkaitan. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku akibat interaksi dengan lingkungan. Proses perubahan tingkah laku merupakan upaya yang dilakukan secara sadar berdasarkan pengalaman ketika berinteraksi dengan lingkungan. Pola tingkah laku yang terjadi dapat dilihat atau diamati dalam bentuk perbuatan reaksi dan sikap secara mental dan fisik.

Tingkah laku yang berubah sebagai hasil proses pembelajaran mengandung pengertian luas, mencakup pengetahuan, pemahaman, sikap, dan sebagainya. Perubahan yang terjadi memiliki karakteristik: (1) perubahan terjadi secara sadar, (2) perubahan dalam belajar bersifat sinambung dan fungsional, (3) tidak bersifat sementara, (4) bersifat positif dan aktif, (5) memiliki arah dan tujuan, dan (6) mencakup seluruh aspek perubahan tingkah laku, yaitu pengetahuan, sikap, dan perbuatan.

Keberhasilan belajar peserta didik dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal, yaitu kondisi dalam proses belajar yang berasal dari dalam diri sendiri, sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Ada beberapa hal yang termasuk faktor internal, yaitu: kecerdasan, bakat (aptitude), keterampilan (kecakapan), minat, motivasi, kondisi fisik, dan mental.

Faktor eksternal, adalah kondisi di luar individu peserta didik yang mempengaruhi belajarnya. Adapun yang termasuk faktor eksternal adalah: lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat (keadaan sosio-ekonomis, sosio kultural, dan keadaan masyarakat).

Pada hakikatnya belajar dilakukan oleh siapa saja, baik anak-anak maupun manusia dewasa. Pada kenyataannya ada kewajiban bagi manusia dewasa atau orang-orang yang memiliki kompetensi lebih dahulu agar menyediakan ruang, waktu, dan kondisi agar terjadi proses belajar pada anak-anak. Dalam hal ini proses belajar diharapkan terjadi secara optimal pada peserta didik melalui cara-cara yang dirancang dan difasilitasi oleh guru di sekolah. Dengan demikian diperlukan kegiatan pembelajaran yang disiapkan oleh guru.

Pembelajaran merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian eksternal yang berperanan terhadap rangkaian kejadian-kejadian internal yang berlangsung di dalam peserta didik (Winkel, 1991).
Pengaturan peristiwa pembelajaran dilakukan secara seksama dengan maksud agar terjadi belajar dan membuat berhasil guna (Gagne, 1985). Oleh karena itu pembelajaran perlu dirancang, ditetapkan tujuannya sebelum dilaksanakan, dan dikendalikan pelaksanaannya (Miarso, 1993)

Proses pembelajaran yang berhasil guna memerlukan teknik, metode, dan pendekatan tertentu sesuai dengan karakteristik tujuan, peserta didik, materi, dan sumber daya. Sehingga diperlukan strategi yang tepat dan efektif.

Strategi pembelajaran merupakan suatu seni dan ilmu untuk membawa pembelajaran sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efesien dan efektif (T. Raka Joni, 1992). Cara-cara yang dipilih dalam menyusun strategi pembelajaran meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik (Gerlach and Ely). Strategi belajar mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur dan kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi pengajaran atau paket pengajarannya (Dick and Carey).

Faktor yang memengaruhi proses pembelajaran terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan pribadi guru sebagai pengelola kelas. Guru harus dapat melaksanakan proses pembelajaran, oleh sebab itu guru harus memiliki persiapan mental, kesesuaian antara tugas dan tanggung jawab, penguasaan bahan, kondisi fisik, dan motivasi kerja.

Faktor eksternal adalah kondisi yang timbul atau datang dari luar pribadi guru, antara lain keluarga dan lingkungan pergaulan di masyarakat. Faktor lingkungan, yang dimaksud adalah faktor lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan sekolah.

Berdasarkan pendekatan yang digunakan, secara umum ada dua strategi pembelajaran yaitu strategi yang berpusat pada guru (teacher centre oriented) dan strategi yang berpusat pada peserta didik (student centre oriented). Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru menggunakan strategi ekspositori, sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik menggunakan strategi diskoveri inkuiri (discovery inquiry).

Pemilihan strategi ekspositori atau diskoveri inkuiri dilakukan atas pertimbangan karakteristik kompetensi yang menjadi tujuan yang terdiri dari sikap, pengetahuan dan keterampilan, serta karakteristik peserta didik dan sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itu tidak ada strategi yang tepat untuk semua kondisi dan karakteristik yang dihadapi. Guru diharapkan mampu memilah dan memilih dengan tepat strategi yang digunakan agar hasil pembelajaran efektif dan maksimal.


Pemilihan strategi ekspositori dilakukan atas pertimbangan:
a. karakteristik peserta didik dengan kemandirian belum memadai;
b. sumber referensi terbatas;
c. jumlah pesera didik dalam kelas banyak;
d. alokasi waktu terbatas; dan
e. jumlah materi (tuntutan kompetensi dalam aspek pengetahuan) atau bahan banyak.

Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi ekspositori adalah sebagai berikut.
a. Preparasi, guru menyiapkan bahan/materi pembelajaran
b. Apersepsi diperlukan untuk penyegaran
c. Presentasi (penyajian) materi pembelajaran
d. Resitasi, pengulangan pada bagian yang menjadi kata kunci kompetensi atau materi pembelajaran.

Pemilihan strategi diskoveri inkuiri dilakukan atas pertimbangan:
a. karakteristik peserta didik dengan kemandirian cukup memadai;
b. sumber referensi, alat, media, dan bahan cukup;
c. jumlah peserta didik dalam kelas tidak terlalu banyak;
d. materi pembelajaran tidak terlalu luas; dan
e. alokasi waktu cukup tersedia.

Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi diskoveri inkuiri adalah sebagai berikut.
a. Guru atau peserta didik mengajukan dan merumuskan masalah
b. Merumuskan logika berpikir untuk mengajukan hipotesis atau jawaban sementara
c. Merumuskan langkah kerja untuk memperoleh data
d. Menganalisis data dan melakukan verifikasi
e. Melakukan generalisasi

Strategi ekspositori lebih mudah bagi guru namun kurang melibatkan aktivitas peserta didik. Kegiatan pembelajaran berupa instruksional langsung (direct instructional) yang dipimpin oleh guru. Metode yang digunakan adalah ceramah atau presentasi, diskusi kelas, dan tanya jawab. Namun demikian ceramah atau presentasi yang dilakukan secara interaktif dan menarik dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran.

Strategi diskoveri inkuiri memerlukan persiapan yang sungguh-sungguh, oleh karena itu dibutuhkan kreatifitas dan inovasi guru agar pengaturan kelas maupun waktu lebih efektif. Kegiatan pembelajaran berbentuk Problem Based Learning yang difasilitasi oleh guru. Strategi ini melibatkan aktivitas peseserta didik yang tinggi. Metode yang digunakan adalah observasi, diskusi kelompok, eksperimen, ekplorasi, simulasi, dan sebagainya.

2. Prinsip Pembelajaran Berbasis Kompetensi

Pembelajaran berbasis kompetensi adalah pembelajaran yang dilakukan dengan orientasi pencapaian kompetensi peserta didik. Sehingga muara akhir hasil pembelajaran adalah meningkatnya kompetensi peserta didik yang dapat diukur dalam pola sikap, pengetahuan, dan keterampilannya.

Prinsip pembelajaran berbasis kompetensi adalah sebagai berikut:
a. Berpusat pada peserta didik agar mencapai kompetensi yang diharapkan. Peserta didik menjadi subjek pembelajaran sehingga keterlibatan aktivitasnya dalam pembelajaran tinggi. Tugas guru adalah mendesain kegiatan pembelajaran agar tersedia ruang dan waktu bagi peserta didik belajar secara aktif dalam mencapai kompetensinya.
b. Pembelajaran terpadu agar kompetensi yang dirumuskan dalam KD dan SK tercapai secara utuh. Aspek kompetensi yang terdiri dari sikap, pengetahuan, dan keterampilan terintegrasi menjadi satu kesatuan.
c. Pembelajaran dilakukan dengan sudut pandang adanya keunikan individual setiap peserta didik. Peserta didik memiliki karakteristik, potensi, dan kecepatan belajar yang beragam. Oleh karena itu dalam kelas dengan jumlah tertentu, guru perlu memberikan layanan individual agar dapat mengenal dan mengembangkan peserta didiknya.
d. Pembelajaran dilakukan secara bertahap dan terus menerus menerapkan prinsip pembelajaran tuntas (mastery learning) sehingga mencapai ketuntasan yang ditetapkan. Peserta didik yang belum tuntas diberikan layanan remedial, sedangkan yang sudah tuntas diberikan layanan pengayaan atau melanjutkan pada kompetensi berikutnya.
e. Pembelajaran dihadapkan pada situasi pemecahan masalah, sehingga peserta didik menjadi pembelajar yang kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah yang dihadapi. Oleh karena itu guru perlu mendesain pembelajaran yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan atau konteks kehidupan peserta didik dan lingkungan.
f. Pembelajaran dilakukan dengan multi strategi dan multimedia sehingga memberikan pengalaman belajar beragam bagi peserta didik.
g. Peran guru sebagai fasilitator, motivator, dan narasumber

Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal.

Tujuh konsep utama pembelajaran kontekstual, yaitu:
a. Constructivisme
 Belajar adalah proses aktif mengonstruksi pengetahuan dari abstraksi pengalaman alami maupun manusiawi, yang dilakukan secara pribadi dan sosial untuk mencari makna dengan memproses informasi sehingga dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berpikir yang dimiliki
 Belajar berarti menyediakan kondisi agar memungkinkan peserta didik membangun sendiri pengetahuannya
 Kegiatan belajar dikemas menjadi proses mengonstruksi pengetahu-an, bukan menerima pengetahuan sehingga belajar dimulai dari apa yang diketahui peserta didik. Peserta didik menemukan ide dan pengetahuan (konsep, prinsip) baru, menerapkan ide-ide, kemudian peserta didik mencari strategi belajar yang efektif agar mencapai kompetensi dan memberikan kepuasan atas penemuannya itu.

b. Inquiry
 Siklus inkuiri: observasi dimulai dengan bertanya, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, dan menarik simpulan.
 Langkah-langkah inkuiri dengan merumuskan masalah, melakukan observasi, analisis data, kemudian mengomunikasikan hasilnya

c. Questioning
 Berguna bagi guru untuk: mendorong, membimbing dan menilai peserta didik; menggali informasi tentang pemahaman, perhatian, dan pengetahuan peserta didik.
 Berguna bagi peserta didik sebagai salah satu teknik dan strategi belajar.

d. Learning Community
 Dilakukan melalui pembelajaran kolaboratif
 Belajar dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil sehingga kemampuan sosial dan komunikasi berkembang

e. Modelling
 Berguna sebagai contoh yang baik yang dapat ditiru oleh peserta didik seperti cara menggali informasi, demonstrasi, dan lain-lain.
 Pemodelan dilakukan oleh guru (sebagai teladan), peserta didik, dan tokoh lain.

f. Reflection
 Tentang cara berpikir apa yang baru dipelajari
 Respon terhadap kejadian, aktivitas/pengetahuan yang baru
 Hasil konstruksi pengetahuan yang baru
 Bentuknya dapat berupa kesan, catatan atau hasil karya

g. Autentic Assesment
 Menilai sikap, pengetahuan, dan ketrampilan
 Berlangsung selama proses secara terintegrasi
 Dilakukan melalui berbagai cara (test dan non-test)
 Alternative bentuk: kinerja, observasi, portofolio, dan/atau jurnal


B. Implementasi Pengembangan Kegiatan Pembelajaran

Sebagai tahapan strategis pencapaian kompetensi, kegiatan pembelajaran perlu didesain dan dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga memperoleh hasil maksimal. Berdasarkan panduan penyusunan KTSP (KTSP), kegiatan pembelajaran terdiri dari kegiatan tatap muka, kegiatan tugas terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sekolah standar yang menerapkan sistem paket, beban belajarnya dinyatakan dalam jam pelajaran ditetapkan bahwa satu jam pelajaran tingkat SMA terdiri dari 45 menit tatap muka untuk Tugas Terstruktur dan Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur memanfaatkan 0% - 60% dari waktu kegiatan tatap muka.

Sementara itu bagi sekolah kategori mandiri yang menerapkan sistem kredit semester, beban belajarnya dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). 1 (satu) sks tingkat SMA terdiri dari 1 (satu) jam pelajaran (@45 menit) tatap muka dan 25 menit tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Dengan demikian, pada sistem paket maupun SKS, guru perlu mendesain kegiatan pembelajaran tatap muka, tugas terstruktur dan kegiatan mandiri.

1. Kegiatan Tatap Muka

Untuk sekolah yang menerapkan sistem paket, kegiatan tatap muka dilakukan dengan strategi bervariasi baik ekspositori maupun diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif, presentasi, diskusi kelas, diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, tanya jawab, atau simulasi.

Untuk sekolah yang menerapkan sistem SKS, kegiatan tatap muka lebih disarankan dengan strategi ekspositori. Namun demikian tidak menutup kemungkinan menggunakan strategi dikoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti ceramah interaktif, presentasi, diskusi kelas, tanya jawab, atau demonstrasi.

2. Kegiatan Tugas terstruktur

Bagi sekolah yang menerapkan sistem paket, kegiatan tugas terstruktur tidak dicantumkan dalam jadwal pelajaran namun dirancang oleh guru dalam silabus maupun RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran). Oleh karena itu pembelajaran dilakukan dengan strategi diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek.

Bagi sekolah yang menerapkan sistem SKS, kegiatan tugas terstruktur dirancang dan dicantumkan dalam jadwal pelajaran meskipun alokasi waktunya lebih sedikit dibandingkan dengan kegiatan tatap muka. Kegiatan tugas terstruktur merupakan kegiatan pembelajaran yang mengembangkan kemandirian belajar peserta didik, peran guru sebagai fasilitator, tutor, teman belajar. Strategi yang disarankan adalah diskoveri inkuiri dan tidak disarankan dengan strategi ekspositori. Metode yang digunakan seperti diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, atau simulasi.

3. Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur

Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang dirancang oleh guru namun tidak dicantumkan dalam jadwal pelajaran baik untuk sistem paket maupun sistem SKS. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah diskoveri inkuiri dengan metode seperti penugasan, observasi lingkungan, atau proyek.


BAB III
MEKANISME PENGEMBANGAN


A. Mekanisme

Mekanisme pengembangan kegiatan pembelajaran dilakukan secara simultan dengan pengembangan KTSP (KTSP) dan silabus mata pelajaran. Sekolah atau kelompok sekolah dengan karakteristik yang hampir sama dan/atau kelompok guru mata pelajaran merumuskan bersama pengembangan kegiatan pembelajaran.

Kegiatan dilakukan dalam koordinasi kepala sekolah yang dilaksanakan oleh tim pengembang kurikulum di sekolah bersama dengan guru baik melalui rapat kerja dan/atau kegiatan MGMP.

Dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran, diperlukan informasi yang cukup berkaitan dengan karakteristik sekolah yang terdiri dari, potensi dan kebutuhan peserta didik, sumber daya, fasilitas, lingkungan, dan lain-lain. Informasi diperoleh dari berbagai sumber seperti catatan dan pengalaman guru, hasil riset bagian penelitian dan pengembangan (Litbang), atau informasi bagian inventarisasi di sekolah, serta karakteristik keilmuan sesuai mata pelajaran.

Hasil pengembangan dituangkan dalam rancangan kegiatan pembelajaran dalam bentuk silabus dan desain pembelajaran, rancangan pelaksanaan pembelajaran lebih rinci (RPP), desain penilaian dan instrumennya, serta dilaksanakan secara efektif dan efisien. Mekanisme kerja tim pengembang kurikulum, MGMP, dan guru mata pelajaran disajikan dalam skema berikut ini.

B. Langkah-Langkah

Pengembangan kegiatan pembelajaran dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Mengkaji dan memetakan KD (KD) agar diketahui karakteristiknya. Hal ini perlu dilakukan guna merancang strategi dan metode yang akan digunakan pada kegiatan tatap muka, tugas terstruktur, dan mandiri tidak terstruktur.
2. Mendeskripsikan KD secara lebih rinci dan terukur ke dalam rumusan indikator kompetensi. Indikator berguna untuk merancang kegiatan pembelajaran yang diperlukan. Indikator yang dominan pada prinsip dan prosedural misalnya, menyarankan kegiatan pembelajaran dengan strategi diskoveri inkuiri.
3. Membuat desain pembelajaran dalam bentuk silabus atau desain umum pembelajaran seperti disajikan dalam Contoh Desain Umum Pembelajaran Sistem SKS.
4. Menjabarkan silabus atau desain pembelajaran dalam bentuk rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) tiap pertemuan.
5. Melaksanaan pembelajaran sesuai dengan silabus/desain pembelajaran dan RPP.
6. Melakukan penilaian proses maupun hasil belajar untuk mengukur pencapaian kompetensi

24 Oktober 2009

Puisi

ILUSI INI

Seandainya hari di rantai
Seandainya waktu dicekal
Seandainya masa dipintal
Ku remuk arti dari diri
Semua yang ada pada matahari
Ku semat di ujung nurani

Seandainya aku bahagia
Seandainya aku bersuka
Seandainya aku berria
Ach……………….nanti saja
Karena aku ingin pulang

by : P' pH

FUNGSI DAN TUGAS PENGELOLA SEKOLAH

1. KEPALA SEKOLAH
Kepala sekolah berfungsi dan bertugas sebagai edukator, maneger, administrator, supervisor pemimpin / leader, inovator dan mitivator

A. Kepala Sekolah Selaku Edukator
Kepala sekolah sebagai edukatoir bertugas melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif dan efesien (lihat tugas guru)

B. Kepala Sekolah Selaku Manager
Mempunyai tugas
1. Menyusun perencanaan
2. Mengorganisasikan kegiatan
3. Mengarahkan kegiatan
4. Mengkoordinasikan kegiatan
5. Melaksanakan pengawasan
6. Melaksanakan evaluasi terhadap kegiatan
7. Menentukan kebijaksanaan
8. Mengadakan rapat
9. Mengambil keputusan
10. Mengatur proses belajar mengajar
11. Mengatur administrasi, ketatausahaan, siswa, ketenagaan, sarana, prasarana dan keuangan (RAPBS)
12. Mengatur organisasi siswa intra sekolah (OSIS)
13. Mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat dan instansi yang terkait

C. Kepala sekolah Selaku Administrator
Bertugas nmenyelenggarakan Administrasi
1. Perencanaan
2. Pengorganisasian
3. Pengarahan
4. Pengkoordinasian
5. Pengawasan
6. Kurikulum
7. Kesiswaan
8. Ketatausahaan
9. Ketenagaan
10. Kantor
11. Keuangan
12. Perpustakan
13. Laboratorium
14. R. Keterampial / Kesenian
15. Bimbingan konsling
16. UKS
17. OSIS
18. Serba guna
19. Gudang
20. 7 K

D. Kepala Sekolah Selaku Supervisor
Bertugas menyelengarakan supervisi :
1. Proses belajar mengajar (PBM)
2. Kegiatan bimbingan konsling (BK)
3. Kegiatan ekstrakurikuler
4. Kegiatan ketatausahan
5. Kegiatan kerjasama dengan masyarakat dan instansi lain
6. Sarana dan prasarana
7. Kegiatan OSIS
8. Kegiatan 7K

E. Kepala Sekolah Selaku Pemimimpin / Leader
1. Dapat dipercaya dan jujur
2. Memahami kondisi guru, karyawan dan siswa
3. Memiliki visi dan memahami visi sekolah
4. Mengambil keputusan intern dan eksteren sekolah
5. Membuat, mencari dan memilih gagasan baru

F. Kepala Sekolah Sebagai Inovator
1. Melakukan pembaharuan dibidang :
a. KBM
b. BK
c. Ekstrakurikuler
d. Pengadaan
2. Melaksanakan pembinaan guru dan karyawan
3. Melakukan pembaharuan dalam menggali sumber daya di komite sekolah dan masyarakat

G. Kepala Sekolah Sebagai Motivator
1. Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk bekerja
2. Mengatur ruang kantor yang konduktif untuk KBM / BK
3. Mengatur ruang laboratorium yang konduktif untuk praktikum
4. Mengatur ruang ruang perpustakaan yang konduktif untuk belajar
5. Mengatur halaman / lingkungan yang sejuk dan teratur
6. Menciptakan lingkungan sekolah yang harmonis sesama guru dan karyawan
7. Menciptakan hubungan kerja yang harmonis antar sekolah dan lingkungan
8. Menerapkan prinsip penghargaan dan hukuman dalam melaksanakan tugasnya, kepala sekolah dapat mendelegasikan kepada wakil kepala sekolah

2. WAKIL KEPALA SEKOLAH
Wakil kepala sekolah membantu kepala sekolah dalam bidang kegiatan – kegiatan sebagai berikut :
a. Menyusun perencanaan, membuat program kegiatan dan pelaksanaan program
b. Pengorganisasian
c. Pengarahan
d. Ketenagaan
e. Pengkoordinasian
f. Pengawasan
g. Penilaian
h. Identifikasi dan pengumpulan
i. Data penyusunan laporan
Wakil kepala sekolah bertugas membantu kepala sekolah dalam urusan – urusan sebagai berikut :
A. Kurikulum
1. Menyusun dan menjabarkan kalender pendidikan
2. Menyusun pembagian tugas guru dan jadwal pengajaran
3. Mengatur penyusunan program pengajaran (program semester) program satuan pelajaran, dan persiapan mengajar penjabaran dan penyesuaian kurikulu
4. Mengatur pelaksanaan kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler
5. Mengatur pelaksanaan program penilaian, kriteria kenaikan kelas, kriteria kelulsan dan laporan kemajuan belajar siswa, serta pembagian raport dan STTB
6. Mengatur pelaksanaan program perbaikan dan pengajaran
7. Mengatur pemamfaatan lingkungan sebagai sumber belajar
8. Mengatur pengembangan MGMPP dan koordinator mata pelajaran
9. Mengatur mutasi siswa
10. Melakukan suvervisi administrasi dan akademis
11. Menyusun laporan
B. Kesiswaan
1. Mengatur program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling
2. Mengatur dan mengkoordinasikan pelaksanaan 7 K (keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, kekeluargaan, kesehatan dan kerindangan)
3. Mengatur dan membina program kegiatan OSIS meliputi : kepramukaan, palang merah remaja (PMR), kelompok ilmiah remaja (KIR), usaha kesehatan sekolah (UKS), patroli keamanan sekolah (PKS), Paskibra
4. Mengatur program pasantren kilat
5. Menyusun dan mengatur pelaksanaan pemilihan siswa teladan sekolah
6. Menyelenggarakan cerdas cermat, olah raga prestasi
7. Menyeleksi calon untuk diusulkan mendapatkan bea siswa
C. Sarana Prasarana
1. Merencanakan kebutuhan prasarana untuk menunjang proses belajar mengajar
2. Merencanakan program pengadaannya
3. Mengatur pemamfaatan sarana prasarana
4. Mengelola perawatan, perbaikan dan pengisian
5. Mengatur pembukuannya
6. Menyusun laporan
D. Hubungan Dengan Masyarakat
1. Mengatur dan mengembangkan hubungan dengan komite sekolah dan peran komite sekolah
2. Menyelenggarakan bakti sosial, karya wisata
3. Menyelenggarakan pameran hasil pendidikan sekolah (gebyar pendidikan)
4. Menyusun laporan

3. GURU
Guru bertanggung jawab kepada kepala sekolah dan mempunyai tugas melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar secara efektif dan efesien.
Tugas dan tanggung jawab seorang guru meliputi :
a. Membuat perangkat pembelajaran
- AMP
- Program tahunan semester
- Program satuan pelajaran
- Program rencana pengajaran
- Program mingguan guru
- LKS
b. Melaksanakan kegiatan pembelajaran
c. Melaksanakan kegiatan penilaian proses belajar, ulangan harian, ulangan umum dan ujian akhir
d. Melaksanakan analisis hasil ulangan harian
e. Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan
f. Mengisi daftar nilai siswa
g. Melaksanakan kegiatan membimbing (pengimbasan pengetahuan) kepada guru lain dalam proses belajar mengajar
h. Membuat alat pelajaran / alat peraga
i. Menumbuh kembangkan sikap menghargai karya seni
j. Mengikuti kegiatan pengembangan pemasyarakatan kurikulum
k. Melaksanakan tugas tertentu di sekolah
l. Mengadakan program pengembangan pengajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
m. Membuat catatan tentang kemajuan hasil belajar siswa
n. Mengisi dan meneliti daftar hadir siswa sebelum memulai pembelajaran
o. Mengatur kebersihan ruang kelas dan ruang praktikum
p. Mengumpulkan dan menghitung angka kredit untuk kenaikan pangkatnya

4. WALI KELAS
Wali kelas membantu kepala sekolah dalam kegiatan – kegiatan sebagai berikut :
A. Pengelolaan kelas
B. Penyelenggaraan administrasi kelas meliputi
1. Denah tempat duduk siswa
2. Papan absensi siswa
3. Daptar pelajaran kelas
4. Daftar kebersihan (piket) kelas
5. Buku absensi siswa
6. Buku pembelajaran / buku kelas
7. Tata tertib siswa
C. Penyusan statistik bulanan siswa
D. Pengisian daftar kumpulan nilai siswa (leger)
E. Pembuatan catatan khusus tentang siswa
F. Pencatatan mutasi siswa
G. Pengisian buku laporan penilaian hasil belajar
H. Pembagian buku laporan penilaian hasil belajar

5. GURU BIMBINGAN KONSLING
Bimbingan konsling membantu kepala sekolah dalam kegiatan – kegiatan sebagai berikut:
A. Penyusunan program dan pelaksanaan BK
B. Koordinasi dengan wali kelas dalam rangka mengatasi masalah yang dihadapi oleh siswa tentang kesulitan belajar
C. Memberi layanan dan bimbingan kepada siswa agar lebih berprestasi dalam kegiatan belajar
D. Memberikan saran dan pertimbangan kepada siswa dalam memperoleh gambaran tentang lanjutan pendidikan dan lapangan pekerjaan yang sesuai
E. Mengadakan penilain pelaksanaan bimbingan konsling
F. Menyusun statistik hasil penilaian bimbingan konsling

6. PUSTAKAWAN SEKOLAH
Pustakawan sekolah membantu kepala sekolah dalam kegiatan – kegiatan sebagai berikut:
A. Perencanaan pengadakan buku – buku / bahan pustaka / media elektronik
B. Pengurusan pelayanan perpustakaan
C. Perencanaan pengembangan perpustakaan
D. Pemeliharaan dan perbaikan buku – buku / bahan pustaka / media elektronik
E. Invetarisasi dan pengabministrasian buku – buku / bahan pustaka / media elektronik
F. Melaksanakn layanan bagi guru, siswa dan tenaga kependidikan lainnya dan masyarakat
G. Menyimpan buku – buku perpustakaan / media elektronik
H. Menyusun tata tertib perpustakaan
I. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan perpustakaan secara berkala

7. LABORATORIUM
Pengelola laboratorium membantu kepala sekolah dalam kegiatan – kegiatan sebagai berikut:
A. Perencanaan pengadaan alat dan bahan laboratorium
B. Penyusun jadwal & tata tertib penggunaan laboratorium
C. Mengatur penyimpanan daftar alat – alat laboratorium
D. Memilihara & perbaikan alat – alat laboratorium
E. Inventariusasi dan pengadministrasian peminjaman alat – alat laboratorium
F. Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan laboratorium

8. KEPALA TATA USAHA
Kepala tata usaha sekolah mempunyai tugas melaksanakan ketatausahaan sekolah dan bertanggung jawab kepada kepala sekolah dalam kegiatan – kegiatan sebagai berikut:
A. Penyusunan program kerja tata usaha sekolah
B. Pengelolaan keuangan sekolah
C. Pengurusan pengadministrasian ketenagaan dan siswa
D. Pembinaan dan pengembangan karier pegawai tata usaha sekolah
E. Penyusunan administrasi kelengkapan sekolah
F. Penyusunan & penyajian data / stastistik sekolah
G. Mengkoordinasi dan melaksanakan 7 K
H. Penyusunan laporan kegiatan pengurusan ketatausahaan sevara berkala

9. TEKNISI MEDIA
Teknisi media membantu kepala sekolah dalam kegiatan – kegiatan sebagai berikut:
A. Merencanakan pengadaan alat – alat media
B. Menyusunan jadwal, tata tertib penggunaan media
C. Menyusun program kegiatan teknisi media
D. Mengatur penyimpanan, pemeliharaan dan perbaikan alat – alat media
E. Inventariusasi dan pengadministrasian alat – alat media
F. Penyusunan laporan pemamfaatan alat – alat media


LAYANAN TEKNISI BIDANG PERTAMANAN / KEBUN (TUKANG KEBUN)
A. Mengusulkan keperlukan alat perkebunan
B. Merencanakan distribusi, jenis dan pemeliharaan tanaman
C. Memotong rumput
D. Menyiangi rumput liar
E. Memelihara dan memangkas tanaman
F. Memupuk tanaman
G. Memberantas hama dan penyakit tanaman
H. Menjaga kebersihan dan keindahan taman serta kerindangannya
I. Merawat tanaman dan infrastrukturnya (pagar dan saluran air)
J. Merawat dan memperbaiki peralatan kebun
K. Membuang sampah kebun dan lingkungan sekolah ke tempat sampah


LAYANAN TEKNISI BIDANG KEAMANAN
A. Mengisi buku catatan kejadian
B. Mengantar / memberi petunjuk tamu sekolah
C. Mengamankan pelaksanaan upacara, PBM, EBTA / EBTANAS dan rapat
D. Menjaga kebersihan pos jaga
E. Menjaga ketenangan dan keamanan siang dan malam
F. Merawat perawatan jaga malam
G. Melaporkan kejadian secepatnya (bila ada)

Perwakilan Pramuka SMAN UNGGUL ke kompetisi penegak di Lhok sukon



Pramuka

06 September 2009

Sejarah


Al Farabi dan Kitab Al Musiqa

Siapa tak tahu musik? Barangkali saudara kita yang tunarungu saja yang belum pernah mendengar denting atau pun dentum alat musik, syahdu atawa rancaknya sebuah lagu. Memang sih, halal atau haramnya musik masih saja diperdebatkan. Lepas dari itu semua, mengertikah kalau sesungguhnya ilmuwan-ilmuwan muslimlah yang banyak menggubah lagu dan bahkan menuliskan seluk beluk musik dalam kitab-kitabnya? Pada awal berkembangnya Islam, musik diyakini sebagai cabang dari matematika dan filsafat. Maka banyak di antara para matematikus dan filsuf Muslim terkemuka yang juga dikenal karena sumbangan pemikirannya terhadap perkembangan seni musik. Di antaranya adalah Al-Kindi (800 M-877 M). Ia menulis tak kurang dari 15 kitab tentang musik, namun yang masih ada tinggal lima. Al-Kindi adalah orang pertama yang menyebut kata musiqi.
 Ada pula Al Farabi, contoh ilmuwan besar yang hidup di tahun 870-950 Masehi. Kontribusinya cukup besar di banyak bidang. Mulai dari matematika, filosofi, pengobatan juga musik. Dialah penyusun Kitabu al-Musiqa to al-Kabir, yang disebut-sebut sebagai buku penting dalam bidang musik.  
 Farabi yang punya nama komplet Nasir Muhammad bin Al Farakh Al Farabi ini merupakan seorang filsuf terbaik di zamannya, juga komentator filsafat Yunani yang sangat ulung di dunia Islam. Farabi yang berasal dari Farab, Kazakhstan tetap bertahan di negaranya hingga usia 50 tahun. Namun setelah itu, selama 20 tahun ia merantau ke Baghdad untuk menuntut ilmu. Baru kemudian ia pergi ke Allepo di Suriah untuk mengabdi pada raja di sana.
 Saat tinggal di Istana Saif al-Dawla Al-Hamdani di Kota Aleppo, Al-Farabi mengembangkan kemampuan musik serta teori tentang musik. Al-Farabi juga diyakini sebagai penemu dua alat musik, yakni rabab dan qanun. Ia menulis tak kurang dari lima judul kitab tentang musik. Kitabu al-Musiqa to al-Kabir atau The Great Book of Music itu berisi teori-teori musik dalam Islam. Pemikirannya di bidang musik masih berpengaruh hingga abad ke-16 M. Kitab musik yang ditulisnya itu sempat diterjemahkan oleh Ibnu Aqnin (1160 M-1226 M) ke dalam bahasa Ibrani. Selain itu, karyanya itu juga dialihbahasakan ke dalam bahasa Latin berjudul De Scientiis dan De Ortu Scientiarum.  
 Seni musik yang berkembang begitu pesat di era kejayaan Islam tak hanya sekadar mengandung unsur hiburan. Para musisi Islam legendaris, seperti Abu Yusuf Yaqub ibnu Ishaq al-Kindi (801-873 M) dan Al-Farabi telah menjadikan musik sebagai alat pengobatan atau terapi.
Sebelumnya Al-Kindi sudah menemukan adanya nilai-nilai pengobatan pada musik. Dengan terapi musik, al-Kindi mencoba menyembuhkan seorang anak yang mengalami quadriplegic atau lumpuh total. Sedangkan Al-Farabi menjelaskan terapi musik dalam risalah yang berjudul Meanings of Intellect. Dalam manuskripnya itu, al-Farabi telah membahas efek-efek musik terhadap jiwa. Terapi musik berkembang semakin pesat di dunia Islam pada era Kekhalifahan Turki Usmani. Gagasan dan pemikiran yang dicetuskan ilmuwan Muslim, seperti al-Razi, al-Farabi, dan Ibnu Sina, tentang musik sebagai alat terapi dikembangkan para ilmuwan di zaman kejayaan Turki Usmani. Mereka adalah Gevrekzade (wafat 1801), Suuri (wafat 1693), Ali Ufki (1610-1675), Kantemiroglu (1673-1723), serta Hasim Bey (abad ke-19 M). Para ilmuwan dari Turki Usmani itu sangat tertarik untuk mengembangkan efek musik pada pikiran dan badan manusia. [Sumber Annida-online)

Album SMAN Unggul Subulussalam